Exploration
| Litle Black Cormorants |
|
Sebuah pohon kepuh besar di bulan Januari waktu itu daunnya habis berguguran, rantingnya kosong tanpa daun. Beberapa saat kemudian terdengar suara berisik rombongan burung hitam terbang. Kelompok yang berjumlah sekitar 70 burung ini kemudian memenuhi ranting kosong tadi. Mereka mengembangkan sayapnya, paruhnya mengambil minyak dari kelenjar minyak dibalik sayap dan mengoleskan ke seluruh bulu-bulunya yang mengilap.
Teks & Foto: Bernard T. Wahyu Wiryanta
Buat pecuk padi diving merupakan skilnya. Selain untuk mencari ikan, menyelam juga digunakan untuk mencari ranting di dasar laut-biasanya ranting bakau-untuk membuat sarangnya. Sarang biasanya dibuat ketika akan bertelur, dibuat di pohon bersama-sama dengan pecuk padi lain. Jadi dalam satu pohon biasanya ada banyak sarang, dan hanya sarang spesies pecuk padi saja, spesies lain dilarang membuat sarang di pohon yang sama.
Penyelam Handal Tapi Pejalan Yang Buruk Walaupun merupakan salah satu penyelam yang handal dan jagoan mengejar ikan, pecuk padi tetap punya kekurangan. Salah satunya adalah bulunya tidak waterproof alias tidak anti air. Hingga setelah menyelam bakalan basah kuyup dan wajib berjemur sampai kering. Lucunya lagi, burung ini punya reputasi sebagai pejalan kaki yang sangat buruk. Saking buruknya, kadang ketika bosan menyelam dan terbang, kemudian harus refreshing di darat dengan jalan-jalan, sering tersandung kakinya sendiri. Kemudian entah tertawa karena lucu, latah, atau teriak karena kesal, setelah tersandung kakinya sendiri ini sering terdengar suara dari paruhnya, “kweeeeek”.
Tukang Rusuh Sepupu Pecuk Ular Pecuk padi menyebar mulai dari daratan India, barat daya China, sampai kepulauan di sekitar Nusantara. Biasanya menyukai habitat rawa berlumpur atau hutan mangrove deket pantai. Karena suaranya yang mirip bebek, orang kampung ada yang menyebut burung ini bebek laut. Orang bule menyebutnya litle black cormorants, sedangkan nama babtisnya sendiri adalah Phalacrocorax sulcirostris. Pecuk padi merupakan burung yang suka bergerombol, kemana-mana selalu beramai-ramai dan urakan pula. Karena ketika terbang bergerombol pasti berisik, berteriak-teriak, kadang memuntahkan ikan dari temboloknya ke manusia di bawah. Ukuran tubuhnya sedikit lebih kecil dari bebek. Seluruh warna bulunya hitam, paruh pada bagian ujungnya melengkung seperti elang, ini yang membuat dia bisa mencengkeram ikan tanpa lolos. Nah salah satu senjata andalannya yang membuat dia jago menyelam adalah kakinya. Seperti layaknya bebek, terdapat selaput renang pada kakinya yang menghubungkan ketiga jarinya yang bercakar tajam. Yang unik adalah matanya, berwarna hijau kebiruan. Pecuk padi ini masih sepupuan sama pecuk ular (Anhinga melanogaster). Anhinga sendiri juga terkenal sebagai penyelam handal dan penangkap ikan yang cukup lihai. Hanya saja Anhinga tidak berisik dan urakan. Badan Anhinga juga relatif lebih besar dengan leher yang panjang. Ketika berenang dan kepala serta lehernya menyembul ke permukaan akan tampak seperti ular, hingga dinamakan pecuk ular. Di habitat aslinya, saya dapati burung ini bertelur antara 2-3 butir. Dari ketiga butir telur ini, jika dia konsisten mengeraminya maka bisa saja semuanya menetas. Telur yang menetas, jika tidak dilahap predator maka harus disuapi sampai bisa terbang dan menyelam sendiri. Biasanya butuh waktu 3 bulan sampai lepas sapih dan mandiri. Salah satu habitat burung pecuk padi, yang relatif dekat dengan Jakarta ada di Pulau Rambut. Juga di beberapa pulau lain dalam gugusan kepulauan seribu. Pada beberapa ekspedisi kami untuk memotret hidupan liar di sana, kami dapati anak-anak pecuk padi yang baru menetas paling banyak di bulan Januari dan Agustus.
Pehoby Kuliner Khusus Seafood
Karena hobynya diving, pecuk padi sangat fanatik dengan seafood. Ketika mengamati pecuk padi yang pulang sarang dan menyuapi anaknya, saya dapati pecuk padi menyantap ikan-ikan kecil, kepiting, dan kadangkala udang dan cumi-cumi. Cara menyuapi anaknya adalah dengan mengeluarkan seafood yang sudah dicerna di temboloknya. Dari tembolok, seafood tercerna ini kemudian dikirim ke kerongkongan. Nah anak-anaknya yang kelaparan secara bergantian kemudian memasukkan paruhnya kedalam rongga mulut induknya untuk mengambil jatah ransum. Setelah anaknya kenyang, induknya kemudian ngelayap lagi, diving mencari ikan buat perutnya sendiri sampai sore. Nah perkara simpanan seafood di tembolok ini, oleh pecuk padi kadang digunakan sebagai senjata. Ketika sedang mengendap-endap untuk memotret mereka, saya pernah terkena bom ikan busuk ini. Waktu itu mereka merasa terganggu dengan kedatangan saya, ramai-ramai mereka berteriak. Kemudian plok, plok, plok, beberapa burung memuntahkan seafood dari temboloknya yang sudah bau, kadang masih ada yang berbentuk ikan utuh. Emak dan anak sama saja, dua-duanya mengebom saya.
Waktunya Belajar Terbang Rantan Predator Walaupun hobynya bergerombol membentuk gank dan rumahnya terlindung diatas pohon, bukan berarti pecuk padi bebas dari gangguan predator. Di alam ada beberapa hewan lain yang sering memangsanya. Burung gagak misalnya, sering memangsa telur yang ditinggalkan induk pengeramnya. Curangnya lagi, setelah melahap telur mentah ini, gagak kadang kemudian bertelur di sarang mangsanya. Setelah induk pengeram pulang maka dia akan mengerami telur si pencuri. Kasihan benar nasib induk ini, sudah telurnya dicuri, ditipu pula. Selain gagak, pemangsa lain adalah ular dan biawak. Ular biasanya merayap di antara ranting buat melahap telur bulat-bulat, atau membelit dan menyantap anak pecuk padi. Pecuk padi muda yang belajar terbang dan terjatuh biasanya juga menjadi jatah makan siang biawak yang setia menunggu di bawah. Jika lolos dari biawak, kadang juga tetap menjadi incaran ular. Menghadapi dua predator lihai ini anakan pecuk padi yang belum bisa terbang tidak bakalan bisa lari meloloskan diri. Bagaimana mungkin bisa lolos, bahkan ketika berjalan saja dia tersandung kakinya sendiri? Jikapun terbebas dari dua mahluk ini, pecuk padi yang belum lihai terbang akan kelaparan. Pecuk muda yang lancang sok bisa terbang dan terjatuh, tidak akan ditolong atau dikasih makan induknya. Akhirnya nyawa pecuk padi muda ini akan terbang ke “padang perburuan abadi”.
Artikel Sejenis dimuat di Majalah Hoby Flora-Fauna FLONA Edisi 90/VI Agustus 2010 |
Litle Black Cormorants
Berjemur sehabis berenang, mengembangkan sayap sambil mengoleskan minyak ke seluruh bulu badan ini rutin dilakukan oleh burung ini. Kegiatan ini dinamakan menyelisik, dan sudah merupakan SOP (standar operasional prosedur) bagi burung pecuk padi. Pecuk padi, yang sering disebut dengan bebek laut merupakan salah satu burung penyelam yang handal. Biasanya mereka secara rombongan menyelam ke laut, mencari ikan untuk santapannya.
Kelemahan lainnya adalah warna bulunya. Bulu badan pecuk padi berwarna hitam. Celakanya warna hitam gelap ini bisa menyebabkan panas yang berlebih. Hingga untuk mengendalikan suhu panas ini pecuk padi dengan sangat terpaksa harus terengah-engah dan secara serentak menggetarkan kantung dibawah kerongkongannya. Pada saat acara ini, dari tenggorokannya akan terdengar suara “kokokokokokoko”. Nah setelah ritual ini, maka suhu badannya akan stabil lagi. Ada-ada saja.
Pecuk padi biasa hidup di hutan mangrove di pinggiran pantai. Atau di pohon-pohon besar secara bergerombol. Biasa mencari makan pada pagi dan sore hari. Bagi yang mempunyai bayi, pada pukul 1-3 sore biasanya sudah pulang untuk menyuapi anaknya.