|
Awalnya kami adalah sekumpulan anak-anak muda yang hobynya keluyuran, masuk-keluar hutan belantara, naik-turun gunung, panjat tebing, nyebur ke laut dan sekali-kali terjun dari gunung atau menyusuri gua. Kebetulan juga di sela-sela kegiatan menghabiskan tabungan untuk melaksanakan hoby kami tersebut, hoby kami yang lain adalah petentengan, action, dengan kamera. Berlagak seolah-olah fotografer hidupan liar top layaknya Alain Compost.
Sampai saat ini, kami tidak pernah mengaku sebagai “gerombolan” pecinta alam. Terus terang, kami mengaku sebagai komunitas fotografer alam liar. Biar gagah sedikit, kami memakai nama ‘The Wildlife Photographers Community’. Bukan maksud kami untuk pamer atau unjuk gigi. Memang pilihan fotografi alam liar terbilang berani. “duitnya kagak ade” kata teman-teman fotografer dari beberapa media cetak. Lantas apa hoby ini akan ditinggalkan. Inilah salah satu kepedulian kami terhadap lingkungan hidup, juga cara kami membantu konservasi sumber daya alam Indonesia. Sok idealis dan berlagak nasionalis memang.
Tujuan jangka panjang kami dengan teman-teman sesama fotografer memang agak susah direalisasikan. Yaitu membuat database flora dan fauna Indonesia dalam bentuk foto. Perkiraan kami hoby yang bakalan menguras harta benda ini tidak bakalan rampung dalam waktu 20 tahun. Namun bila teman-teman dari berbagai daerah yang kebetulan punya hoby keluyuran juga seperti kami sambil action menenteng kamera bisa bergabung, tak ayal mision imposible ini tidak bakal menguras harta benda dan waktu.
Memang tidak mudah mencari teman yang mempunyai hoby gila seperti ini. Paling tidak untuk berburu foto di alam liar dibutuhkan minimal kamera SLR (single lens reflector) beserta lensa zoom dan supertelephoto yang harganya “mendingan buat beli mobil.” Namun bukannya sekarang sudah membanjir kamera-kamera pocket digital yang kemampuannya tidak kalah dengan kamera SLR profesional dan harganya pun terjangkau?
Masalah lain yang signifikan adalah masalah waktu. Coba saja bayangkan, siapa yang mau diajak keluyuran ke rimba nan belantara paling tidak selama tiga bulan untuk motret monyet. Mendingan juga motret model yang tubuhnya menggiurkan, apalagi di pose nude. Belum lagi memanggul ransel segede karung beras dan menenteng tripod dari besi. Beratnya ransel ini biasanya masih dihadang oleh hujan dan cuaca yang keseringan menjadi musuh untuk sekedar melepas rana. Ditambah lagi ancaman binatang buas yang bebas berkeliaran di daerah teritorialnya. Hasilnya?
Memang kalau fotografer wedding, begitu rol film digulung bisa langsung dapat duit. Sepulang dari hutan, siapa yang mau langsung membayar tampang lutung yang ada di memory card camera kita. Tapi walau bagaimanapun harus ada yang menekuni dan the show must go on.
Ide awal kami sebelumnya adalah membuat semacam buletin atau katalog foto, tapi perhitungan kami hal ini tidak efisien dan efektif, serta kurang interaktif. Hingga ide tadi akhirnya berubah menjadi website ini. Memang stok foto yang ada masih sedikit dan kurang memuaskan, soalnya basic kami adalah tukang keluyuran di hutan bukan fotografer. Tapi paling tidak kami sudah memulai. Anda ingin bergabung, daripada slide Anda numpuk dan file foto Anda memenuhi hardisk kirimkan saja ke www.wildlifeindonesia.com. Atau Anda mau mencoba ketangguhan kamera Anda di belantara tropis basah, menyelam di taman nasional Kepulauan Seribu, bergelantungan di pohon layaknya Tarzan sambil membidik monyet dengan kamera. Bisa-bisa Anda yang akan jadi tontonan oleh mereka. Selamat menjadi “fotografer monyet.”

Kru Kami:
- Bernard T. Wahyu Wiryanta -
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
- MB "Ncek" Kurniawan -
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
- Paulus Nugrohojati -
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
- Purwo "Dudung" Hardono
- Hadi Iswanto
- Revi Mascot
- Novan Firmansyah
- Marfudin "Dower"
|