Share on facebook
Home Javan Stink Budger
Java Stink Badger

Selama beberapa tahun, Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango sempat menjadi rumah kedua saya. Ketika berbulan-bulan nge-camp disini saya fokus pada primata dan keluarga macan, juga elang jawa dan tentu saja anggrek spesies. Satu penghuni unik ada yang terlewat oleh saya, si kentut busuk ”Teledu”.

Teks & Foto: Bernard T. Wahyu Wiryanta

Sebagai taman nasional tertua di Indonesia, Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (TNGGP) merupakan taman nasional dengan vegetasi relatif paling lengkap di Jawa. Salah satu flora terkenal di kawasan ini adalah Anaphalis javanica atau edelweis jawa. Lembah di kawasan Gede-Pangrango yang penuh dengan edelweis sangat terkenal di kalangan pecinta alam. Lembah edelweis ini dinamai dengan nama salah satu putera gaib Bupati Cianjur pertama, Suryakencana. Selain edelweis, TNGGP juga merupakan habitat puluhan anggrek spesies. Sedangkan fauna endemiknya yang terkenal adalah surili (Presbystis comata), owa jawa (Hylobates moloch), lutung jawa (Trachypithecus auratus), macan kumbang (Panthera pardus), dan tentu saja elang jawa (Nisaetus bartelsi).

Stink Budger From Java
Selain flora-fauna di atas, ada satu fauna yang sempat terlewat dari pengamatan saya dan rekan perburuan hidupan liar lain. Binatang ini adalah Teledu atau Sigung. Padahal setiap kali menyusuri jalan dan hutan di gunung ini saya selalu menemui jejaknya. Jejak teledu pada awalnya saya pikir jejak babi hutan yang mencari cacing di balik lapisan humus.


Teledu dikenal juga dengan nama Sigung. Bule-bule di barat biasa menyebut dengan nama skunk, atau khusus untuk teledu yang hidup di Jawa biasa disebut juga dengan Javan Stink Badger. Sedangkan penggemar film kartun, terutama serialnya Looney Tunes, lebih mengenal sigung ini sebagai tokoh “Pepe Le Pew”, karakter ciptaan Chuck Jones. Nama aslinya sendiri sejak lahir adalah Mydaus javanensis.


Dalam kerajaan binatang, Mydaus javanensis ini masuk dalam keluarga Mustiledae. Jadi si “Pepe Le Pew” yang di televisi selalu mengejar si “Pussycat” (tokoh kucing betina dengan punggung bergaris putih yang selalu dikira sigung betina) ini masih sepupuan sama musang, landak, trenggiling, faret, dan berang-berang. Namun dalam dunia persilatan, mamalia ini mungkin masih satu perguruan sama Kyai Semar, karena sama-sama bersenjatakan kentut berbau busuk.

Mamalia Adaptif
Di dunia, sigung bisa ditemui di Asia, Eropa, dan Amerika. Namun si Pepe Le Pew ciptaan Chuck Jones dalam kartun Looney Tunes sosoknya digambar dari sigung yang ada di Perancis. Bukan sigung yang ada di TNGGP. Sigung bule di sana selain hidup di hutan juga bisa ditemui di padang rumput, sejak dari dataran rendah sampai dataran tinggi. Nah, Javan Stink Budger yang ada di TNGGP ini bisa ditemui di ketinggian 1250 m dpl sampai di puncak tertinggi di puncak Pangrango pada ketinggian 3019 m dpl. Namun kadang juga nongol di perbatasan hutan dan ladang penduduk di ketinggian sekitar 1000 m dpl.


Biasanya sigung membuat rumah dengan menggali lubang di tanah. Atau bersembunyi di gua-gua kecil di sela-sela batu. Beberapa sigung juga saya temui menghuni lubang pohon atau berteduh dibalik pohon tumbang yang sudah lapuk.

Kepala Rambut Putih Bermonyong Babi
Sigung merupakan binatang mamalia dengan ukuran sebesar kucing atau kelinci pada umumnya. Yang sering saya temui di TNGGP rata-rata mencapai panjang 40 cm dan paling besar beratnya kisaran 3 kg. Berat pastinya? Saya kira tidak ada yang tahu, karena saya yakin tidak ada yang gila atau nekat mau memegang atau mengambilnya untuk ditimbang. Kecuali ada yang belum tahu senjata rahasianya.


Mulut Teledu sedikit monyong, memanjang mirip mulut babi. Bagian badannya ditumbuhi rambut berwarna hitam. Ciri uniknya adalah bagian rambut di kepala bagian atas berwarna putih, juga pada ekornya. Bagian putih di kepala dan ekor ini tersambung dengan garis putih tipis pada punggungnya. Badannya cenderung gemuk, dengan empat kaki pendek berotot. Telapak kakinya unik, karena mirip telapak kaki pada manusia. Hanya saja masing-masing kaki mempunyai 5 jari dengan cakar putih melengkung yang tajam.

 

 

 

 

 

 

Penyendiri Pemakan Serangga
Menurut literatur, mamalia ini termasuk jenis karnivora yang juga memakan mamalia kecil lainnya. Namun selama beberapa minggu mengikutinya, saya dapati carnivora ini menyantap cacing, rayap, dan serangga lainnya. Caranya mencari nafkah adalah dengan cara berjalan dengan moncongnya masuk kedalam lapisan humus mengobrak-abrik dedaunan untuk mencari serangga dibaliknya. Selain dengan moncongnya yang mirip mulut babi-tapi tanpa taring-kadang untuk membuat berantakan humus supaya penghuninya keluar juga menggunakan kedua kaki depannya yang bercakar. Caranya mencari makanan yang demikian ini kemudian meninggalkan jejak, berupa lubang atau bekas berantakan humus sepanjang jalannya. Inilah yang saya kira jejak babi mencari cacing.


Harusnya, sigung ini di alam satu shift dengan burung hantu dan kelelawar, tugasnya mencari makan pada malam hari. Namun kadang-kadang saya dapati di siang hari bolong beberapa binatang ini tetap saja bandel, keluyuran menggali lapisan daun mencari serangga.


Dari sononya, sigung harusnya merupakan binatang penyendiri. Hobynya keluyuran kemana-mana dan mencari makan tanpa teman. Namun pada pertemuan pertama saya di TNGGP, tepatnya di sekitar pos Rawa Denok pada ketinggian 1700 m dpl, saya berhasil melihat penampakan tukang kentut ini sedang rukun, sepasang suami istri bersama-sama mencari makan diikuti 4 anaknya yang kira-kira berumur 1 bulan. Waktu itu akhir bulan Juni, jadi mereka kemungkinan beranak sekitar bulan April-Mei.

Rambut Putih Tanda Buat Predator
Di dunia kartun, Pepe Le Pew sih tidak punya musuh berarti yang berhasil menangkap dan menyantapnya. Tapi celakanya di dunia nyata di TNGGP berlaku hukum alam. Anak-anak sigung kadang masuk dalam daftar belanjaan siang elang jawa dan macan, dan pada malam hari masuk dalam daftar menu  dinner burung hantu. Ketiga predator ini merupakan binatang nekat yang mungkin sudah kebal bau busuk.


Nah selain mempunyai senjata rahasia sebagai alat pembela diri, sigung juga mempunyai cirikhas yang menjadi kelemahannya. Yaitu warna bulu putih di kepala dan ekor. Warna putih inilah yang memudahkan para pemangsa mengenalinya. Jadi ketika sedang tidak terlindung, warna putih ini akan menjadi tanda buat elang jawa misalnya, “itu dia makan siangku”.

Tembakan Kentut Mematikan
Selain beberapa predator diatas, lalu kenapa mahluk ini dibenci oleh seluruh penduduk dunia? Ternyata perkaranya ada pada kelenjar sekresi di bawah ekornya. Kelenjar ini ibarat senapan berlaras ganda. Kedua laras senapan ini berupa puting yang menembakkan gas berkabut. Biasanya sih sasaran sejauh 2-4 m bisa dengan tepat ditembak. Nah, gas berkabut inilah biang keladinya. Jika kena binatang pemangsa atau baju dan kulit manusia, dijamin korbannya akan kena kutukan dijauhi oleh mahluk lain minimal 3 hari 3 malam. Pasalnya korbannya bakalan dijangkiti bau busuk menyengat hidung yang susah hilang. Bau busuk pada baju yang terkena tembakan ini walaupun dicuci dengan deterjen anti noda pun, tetap akan bandel emoh pergi.

Mempertaruhkan Diri Untuk Memotret
Di balik kanopi hutan hujan tropis TNGGP ini kami sedikit kesulitan buat memotret “Pepe Le Pew”. Pasalnya sinar matahari terhalang lebatnya hutan, hingga tidak mungkin kami memotret dengan lensa tele. Satu-satunya jalan, kami memakai lensa makro dengan focal lengt pendek.


Kami benar-benar mempertaruhkan diri ketika mendekat dalam jarak hanya 50 cm untuk memotret. Tapi kami sudah tahu, ketika pemakan serangga ini menggeram, menepukkan kaki depannya, membelakangi kami dengan menungging, dan kepalanya menengok ke belakang, maka kami harus segera melarikan diri. Jika tidak cepat kabur, maka si brengsek ini akan segera kentut seperti Semar. Bau kentutnya ini-yang bisa ditembakkan sampai jarak 4 m-jika mengenai kami maka kami bisa disingkirkan dari peradaban manusia.

 

Sumber/Naskah Serupa Dimuat di Majalah FLONA Edisi 101, Juli 2011

 

 


Powered by Joomla!. Designed by: flirting signs smtp settings Valid XHTML and CSS.