Share on facebook
Home Gymnamphora
Gymnamphora Penipu Dari Gunung Prau

Setelah mendengar suara auman dan suara perkelahian salah satu spesies macan saya segera meraih kamera dan kapak genggam. Rekan perburuan lain, masing-masing juga mengambil kamera dan pisau rimba. Segera kami menuruni lereng utara Gunung Prau (prau (jawa)=perahu) yang hampir tegak lurus sedalam lebih dari 200 m ini untuk merekam. Terlambat, sesampainya didasar jurang kami hanya dapati bekas perkelahian binatang karnivora ini. Namun ketika berusaha naik dengan berpegangan pada Gleichenia linearis, kami menemukan carnivora lain, Nepenthes gymnamphora.

 

Teks/Foto: Bernard T. Wahyu Wiryanta


Teman-teman yang mendengar cerita saya tentang Gunung Prau selalu complain karena tidak menemukan data gunung ini di Google maupun di seacrh angine lainnya. Yang selalu muncul pasti Gunung Tangkuban Perahu di Jawa Barat. Padahal bentuk Gunung Prau di Jawa tengah ini lebih mirip perahu terbalik jika dibanding Tangkuban Perahu. Saya jadi berharap mereka tidak menemukannya, daripada habitat kantong semar di sini nanti rusak.

Gunung Perahu (2050 m dpl) di Jawa Tengah memang tidak begitu terkenal dibanding beberapa gunung tetangganya. Di sebelah barat ada Gunung Slamet (3418 dpl), sedangkan di Timur berjejer dua saudara kembar Sindoro (3155 dpl) dan Sumbing (3371 dpl). Orang lebih mengenal kawahnya, yaitu dataran tinggi Dieng daripada Gunung Perahu. Ya, Dieng Plateau merupakan kawah Gunung Perahu. Kawah yang sekarang menjadi pemukiman penduduk ini merupakan dataran tertinggi kedua yang dihuni manusia setelah Tibet.

Di lereng gunung sebelah utara inilah tempat perburuan kami. Selama pendakian gunung ini sejak tahun 90an saya dapati populasi pitcher plants disini semakin menyusut. Pada jalur yang biasa saya lalui dulu, hampir di kanan-kiri saya dapati ribuan kantong semar bersatu dengan pakis resam, menguasai humus dibawah sela kanopi hutan hujan tropis disini. Sekarang saya harus merambah dan memanjat tebing di sisi lain gunung untuk menjumpainya. Disini biasanya populasi carnivora plants ini saya jumpai pada ketinggian 1500-2000 m dpl.

Tertipu 4 Jenis Gymnamphora
Pada tiap pendakian, saya selalu saja terkecoh dengan keberadaan kantong semar disini. Saya hampir dapati ada 4 jenis kantong semar dengan warna, bentuk, dan ukuran yang berbeda. Saya pikir ada 4 spesies kantong semar berbeda di gunung ini. Setelah Adrian Yusuf Wartono, seorang peneliti Nepenthes yang sekarang study di Belanda menerima kiriman foto-foto saya, baru saya tahu, “keempatnya adalah Nepenthes Gymnamphora”  tulis Adrian dalam balasan surat elektroniknya.

Namun rupanya bukan saya saja yang tertipu oleh gymnaphora ini. Teman-teman lain yang selalu ikut perburuan hidupan liar ke gunung ini pun setali tiga uang. Mereka pikir ada beberapa spesies kantong semar disini. Terlebih kami juga dapati ada yang epifit, menempel di pohon.

 

Kantong Atas Gymnamphora
Gymnamphora pertama yang kami temui dan yang paling banyak mendominasi populasi, adalah kantong atas. Rekor terpanjang yang kami temui adalah 25 cm. Warnanya hijau sedikit kekuningan, dengan sedikit bercak cokelat atau keunguan. Kantong tengah spesies gymnamphora biasanya banyak dijumpai hidup bersama dengan paku resam. Jika kurang teliti kadang terlewat karena warnanya sama, menyaru, atau tertutup daun pakis.

Ciri utama kantong atas gymnamphora adalah sulur terdapat dibagian belakang kantong. Kantong yang terbentuk pada tanaman dengan tinggi sekitar 1,5 m ini biasanya berbentuk memanjang, langsing, dan tidak mempunyai sayap pada bagian depan. Selain bibir kantong lebih tipis dibanding pada bibir kantong bawah, ciri lain kantong atas adalah adanya pinggang pada kantong yang merupakan batas zona pencernaan. Tinggi tanaman yang saya temui di Perahu ada yang mencapai 2 m, ini karena gymnamphora memanfaatkan pakis resam sebagai pegangan.

 

Kantong Tengah Gymnamphora
Kantong tengah adalah kantong peralihan antara kantong bawah dan kantong atas. Hingga kantong ini kadang masih mempunyai ciri-ciri antara kantong atas dan kantong bawah. Kantong tengah gymnamphora ini kadang ada yang masih mempunyai sayap dan/atau pinggang, namun bentuknya relatif lebih kecil. Bahkan di daerah yang sinar mataharinya terhalang kanopi hutan bentuknya hanya sebesar ibu jari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kantong Bawah Gymnamphora
Kantong yang terakhir adalah jenis kantong bawah. Ini yang saya duga jenis lain, bentuknya unik dan warnanya banyak yang cerah. Kalau tidak berwarna hijau dengan bercak merah ya merah cerah menyala. Kantong bawah ini menurut Adrian terbentuk pada tanaman muda (tinggi kurang dari 1 m) yang baru pertamakali membentuk kantong, tanaman dari biji, atau tanaman muda dari tunas vegetatif batang bagian bawah yang menjalar.

Kantong bawah gymnamphora menurut saya yang paling cantik. Pada kantong bawah, terdapat sayap berduri pada bagian depan kantong. Bentuk kantong umumnya pendek, membulat, gerigi bibir lebih jelas, dan posisi sulur biasanya ada di depan kantong. Namun di Gunung Perahu ini saya dapati kantong bawah berwarna merah cerah, bersayap pada bagian depan, dan posisi sulur ada di depan atau disamping, dengan panjang kantong lebih dari 12 cm. Kantong bawah dengan ukuran besar dan warna merah cerah ini saya dapati di tempat yang sedikit terbuka.

Pada lokasi penyebaran kantong semar yang tidak terkena sinar matahari, dan tidak ada pakis resam, kantong bawah gymnamphora ini rata menutup dasar hutan seperti cover crop. Rata-rata ukuran kantongnya sebesar ibu jari tangan.

Daun dan Batang Juga Menipu
Selain tertipu dengan bentuk, ukuran, dan warna kantong, saya juga tertipu dengan bentuk dan ukuran daun gymnamphora. Pada kantong atas dan kantong tengah, saya dapati daun dan sulur berwarna hijau. Kantong atas umumnya daunnya berbentuk pita memanjang dengan sulur bisa sepanjang 50 cm. Namun pada kantong bawah yang berada di tempat terbuka saya dapati daun dan sulurnya tebal dan pendek. Warna daun dan sulur juga merah cerah, sama dengan warna kantongnya.

Selama beberapa kali perburuan, saya hanya dapati kolokecipo (sebutan masyarakat sekitar) ini berbunga dan berbiji pada populasi yang jadi satu dengan pakis resam dan terkena sinar matahari. Didaerah yang terlindung, belum pernah saya dapati tanaman berbunga, apalagi berbuah.

Beberapa kali saya juga dapati gymnamphora yang menjadi epifit. Pada tanaman yang kemudian menjadi epifit, ternyata berasal dari tunas vegetatif atau dari biji yang menempel pada pohon dengan lumut tebal. Entah bagaimana, tunas batang ini kemudian berakar dan menjadi individu baru yang menjadi epifit. Kantong semar epifit umumnya berpenampilan kecil, pendek, dengan kantong sebesar ibu jari tangan. Gymnamphora yang saya dapati menempel di pohon setinggi 170 cm ini lagi-lagi saya pikir sepsies yang berbeda.

Para kantong penipu dari lereng utara gunung perahu ini sedikit beruntung. Pasalnya pada lereng utara yang masih dihuni satwa liar dengan medan terjal dan hutan lebat jarang dilewati oleh manusia. Hingga pada tempat-tempat tertentu populasinya masih banyak. Saudaranya yang berada di lereng selatan padahal hampir punah dieksploitasi menjadi tanaman hias.

Yang lebih menggembirakan lagi adalah layanan pesan singkat dari Adrian yang sampai ke telepon selluler saya. “Saya pikir populasi gymnamphora di gunung perahu sudah punah”. Jadi, para penipu ini berhasil survive rupanya.

 

NB: Naskah Serupa dimuat di Majalah Hoby & Bisnis Flora-Fauna FLONA, edisi Juli 2010

 


Powered by Joomla!. Designed by: flirting signs smtp settings Valid XHTML and CSS.